Cari Keuntungan dengan Memungut Biaya, 11 Makam Palsu di Mojokerto Dibongkar

 

Tagarterkini.com, Mojokerto – Komunitas budaya dan Pejuang Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) bersama Pemerintah Desa Kumitir di Mojokerto bersama membongkar 13 makam yang dianggap palsu. Makam-makam ini, yang dibangun pada tahun 2018, diduga dimaksudkan untuk mengaburkan sejarah leluhur dan untuk kepentingan pribadi beberapa individu. Pembangunan makam palsu ini dikendalikan oleh Habib Soleh dari Bogor. Sebagian makam palsu dibangun di bawah pendapa, dekat dengan dua makam asli, yaitu Mbah Sagu dan Mbah Budiman. Semua makam berada di tanah kas desa Kumitir seluas 263 meter persegi.

Kepala Dusun Bendo, Desa Kumitir, Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Nirrawang Mahalila mengatakan, Keputusan yang diambil dalam musyawarah pada malam Minggu (12/1) terkait makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman, berdasarkan penuturan para sesepuh Dusun Bendo, menunjukkan bahwa keberadaan makam tersebut memang sudah dikenal turun-temurun dalam sejarah masyarakat setempat. Hal ini menegaskan bahwa kampung ini memang memiliki sejarah panjang yang perlu dihormati dan dijaga sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi.

“jadi makam ini berada di dalam wilayah situs kumitir. Di dalam situs ini terdapat makam asli Mbah Sagu dan Mbah Budiman, serta 11 makam lainnya yang dianggap palsu. Setelah melalui diskusi panjang, 11 makam palsu tersebut akhirnya dibongkar pada Senin, 13 Januari 2025. Pembongkaran ini menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keaslian situs sejarah dan memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai makam-makam yang ada di sana,” Ucap Nirrawang saat di wawancarai wartawan.

Nirrawang juga mengatakan, pembongkaran makam palsu di Dusun Bendo, yang terletak di Desa Kumitir, Kabupaten Mojokerto, terjadi setelah desakan dari PWI LS Kabupaten Mojokerto dan berbagai komunitas budaya, seperti Pendekar Darah Garuda Mojokerto, Aliansi Putro Wayah Majapahit, dan lainnya. Proses ini melibatkan upaya yang cukup panjang, dengan Panglima Laskar Sabilillah Kabupaten Mojokerto, Athourrahman, yang menghabiskan waktu sekitar tiga pekan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan warga setempat.

Tidak hanya itu, di lokasi makam, Kepala Dusun Bendo, Nirrawang Mahalila membacakan surat pernyataan dari Kepala Desa Gumitir Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto ini menyampaikan beberapa poin penting. Dalam surat tersebut, Kepala Desa meminta maaf kepada aliansi LSM, ORMAS budayawan, dan khususnya PWI (Perjuangan Walisongo Indonesia) serta Laskar Sabilillah (LS) Mojokerto, atas ketidakhadirannya untuk menemui mereka karena sedang sakit. Kepala Desa juga menegaskan bahwa untuk pembersihan makam di luar pepunden Mbah Saguh diserahkan kepada desa, sesuai dengan hasil rapat warga yang dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 2025. Langkah ini diambil dengan tujuan untuk menjaga kondusifitas lingkungan dan masyarakat setempat.

“Kepala Desa juga menyampaikan permintaan maaf khusus kepada PWI dan LS Mojokerto atas ketidakhadiran dalam koordinasi terkait pembongkaran makam tersebut. Pembongkaran makam tersebut disaksikan oleh Kepala Desa Gumitir, Sekretaris Desa, Kepala Dusun Bendo, Kepala Dusun Gumitir, dan tenaga kasar yang terlibat dalam proses tersebut,” kata Nirrawang.

Sementara itu, Panglima Laskar Sabilillah Kabupaten Mojokerto Athourrahman menghabiskan waktu sekitar 3 pekan untuk mendekati Pemerintah Desa Kumitir dan warga setempat. Pihaknya juga sempat dipanggil ke Polsek Jatirejo untuk rapat koordinasi. Setelah melalui musyawarah yang cukup panjang, akhirnya terkuak hanya 2 makam asli di area Situs Kumitir tersebut. Yaitu makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman. Sedangkan 11 makam di sekitarnya adalah palsu. Sehingga dinilai mengaburkan sejarah para leluhur.

“Jadi Habib Soleh membuat makam palsu hanya berdasarkan mimpi. Selain itu, Habib Soleh mengaku mendapatkan petunjuk atau narasumber dari sejumlah kiai. Namun, ketika pihaknya berniat mendatangi kiai tersebut, Soleh berdalih kiai itu sudah wafat. Artinya, sejarah makam terputus sampai di situ. Jadi, ini tidak lagi indikasi, tapi memang benar makam palsu. Akhirnya saat musyawarah Habib Soleh bersedia makam dibongkar dan dikembalikan ke desa,” beber Athourrahman.

Athourrahman juga mengatakan, makam palsu tersebut diziarahi oleh banyak orang, terutama pengikut Habis Soleh, digunakan sebagai ajang untuk kegiatan spiritual seperti tahlil dan istigasah. Meskipun tampaknya kegiatan tersebut bernuansa positif, ada indikasi bahwa beberapa pihak mungkin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih keuntungan materi, seperti dengan memungut biaya.

“Yang kami sayangkan di situ ada iuran, kotak amal yang tidak jelas ke mana. Setahu saya juga ada beberapa masyarakat yang dimintai iuran dana untuk membangun makam ini. Termasuk pihak desa diminta sekitar Rp 30 juta, tapi desa paham prosedur sehingga tak sampai memberi dana desa ke Habib Soleh. Begitu menjadi polemik, mereka meninggalkan. Habib Soleh juga pernah tinggal di desa ini, tapi sudah pindah entah ke mana,” imbuh Athourrahman

Athourrahman berharap tidak ada lagi makam-makam palsu di Bumi Majapahit. Dan tidak ada lagi makam-makam paslu yang menyelewengkan sejarah leluhur dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Karena leluhur kita sudah jelas, bukan dari mimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *