Tagarterkini.com, Mojokerto — Dunia pendidikan saat ini menuntut siswa untuk tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga pencipta yang adaptif. Namun, seringkali seni gambar dan seni musik (nada) diajarkan sebagai dua hal yang terpisah, padahal keduanya adalah bahasa ekspresi yang saling melengkapi.
Banyak siswa merasa memiliki ide visual yang kuat namun kesulitan merangkai nada, atau sebaliknya. Di sinilah inovasi SENADA (Student Agent dalam Seni Gambar dan Nada). Seperti yang telah disampaikan oleh Kepala Sekolah SDN Wates 3, Sri Admini,S.Pd bahwa inovasi ini dirancang untuk memposisikan siswa sebagai “agen” atau penggerak utama yang menjembatani keterkaitan antara imajinasi visual dan harmoni suara.
“Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk mengeksplorasi bagaimana sebuah warna bisa menjadi melodi, dan bagaimana sebuah irama bisa membentuk garis gambar. Inovasi ini bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan diri siswa dalam berkarya secara holistik, mengubah ruang kelas menjadi laboratorium kreatif di mana teknologi dan rasa bersinergi melahirkan karya seni yang utuh,” jelasnya.
Pengalaman belajar dalam inovasi SENADA bukanlah sekadar pertemuan di dalam kelas, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang dimulai dari tahap pembinaan intensif. Di sini, siswa tidak hanya diajarkan teknik, tetapi juga dibentuk mentalitasnya sebagai seorang kreator yang mandiri dan berani bereksperimen.
Berikut perjalanan kreatif siswa yang meliputi Tahap Pembinaan dan Eksplorasi Rasa, Proses Kreatif: Seni Gambar dan Manifestasi Visual, Proses Kreatif: Seni Gambar dan Manifestasi Visual, dan Hilirisasi Karya: Kepercayaan Diri Sang Agen.













