Tagarterkini.com, Mojokerto – Komnas Perlindungan Anak (PA) Jawa Timur menyatakan untuk memberikan pendampingan kepada korban penganiayaan AP (11) oleh ayah tirinya JPAW (26) di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto dengan hadir secara langsung di rumah korban dan sekolah korban.
Sekretaris Jenderal Komnas PA Jatim, Jaka Prima mengatakan, dirinya sempat mendatangi pihak kepala sekolah korban AP (11) di sekolahnya dan bertemu dengan Kepala Sekolahnya, dan juga komite, guru, serta RT di Desa rumah korban.
Jaka sempat menanyakan ke pihak gurunya AP terkait prilaku AP di sekolah apakah AP pendiam di sekolah.
“Jadi jawaban dari pihak sekolahan Anak AP berprilaku baik selama bersekolah, aktif dan rajin namun akhir- akhir ini banyak diamnya dan tidak banyak bicara. Beliau selalu rajin sekolah dan patuh terhadap gurunya. Saya juga bertanya ke pihak gurunya apakah anak AP sering telat ke sekolah atau tdk masuk sekolah. Dan dijawab tidak pernah dan rajin serta selalu bersemangat, dalam kondisi luka dan memarpun akibat pemukulan pun tetap bersekolah. Itu yang saya dapatkan jawabannya dari pihak sekolahnya AP,” Ucap Jaka.
Jaka juga mengatakan, pihak sekolah pernah menanyakan kenapa terluka, dan jawab anak AP karena terjatuh dan tidak apa-apa. Sampai akhirnya terungkap akibat pemukulan dan benda.
“Untuk pengakuan tersangka yg menyebut AP suka memalak teman dan nonton video porno dan lain-lain. Dari hasil penelusuran kami Komnas PA Jatim. Anak tersebut tidak pernah merokok sama sekali di sekolah dan tdk ada pengaduan dari teman-temannya terkait pernah melihat film porno, tidak pernah ada info kenakalan menurut kepala sekolah selama ini,” Kata Jaka.
Jaka kembali mengatakan, dari hasil penelusuran Komnas PA jatim pelaku kategori ayah tiri korban ini seperti psikopat, kejam dan tega terhadap anak.
Tangan PA di ikat pakai rantai, disiksa pakai putung rokok, di pukul kayu, rantai motor dan batako dan lain-lain. Selain itu korban pun tidak hanya satu, masih ada dugaan korban lainnya.
“Bahkan ada info dari pak RT dulu ada yang lapor ada anak di pukul kepalanya menggunakan helm oleh tersangka,” Tambah Jaka.
Jaka berharap pihak penegak hukum memberikan hukuman yg setimpal atas tindakam tersangka.
Dan dihukum seberat-beratnya. Selain itu Jaka menilai, korban mengalami trauma akibat kejadian tersebut, sementara sang ibu juga berpotensi mengalami ketakutan atas kasus yang menimpa anaknya. Oleh karena itu, fokus utama Komnas PA saat ini adalah pemulihan psikologis korban.
“Fokus kami adalah pemulihan trauma anak. Sepertinya ibu dan anaknya masih takut. Namun, hari ini korban sudah kembali bersekolah,” Tutup Jaka.













