Tradisi Kumkum Sinden di Sendang Made Jombang, Konon Sudah Ada Sejak Zaman Raja Airlangga

 

Tagarterkini.com, Jombang – Tradisi adalah kebiasaan atau perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama dan diturunkan dari generasi ke generasi. Tradisi merupakan bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Kata tradisi berasal dari bahasa Latin traditio yang berarti “diteruskan”.

Ada tradisi yang sangat unik Jawa Timur yaitu tradisi Kumkum Sinden yang berasal dari Desa Made, Jombang.

Dimana Tradisi Kumkum Sindeng dan para seniman berendam sembari berdoa di Sendang Made yang terletak di lereng Gunung Pucangan, Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang, yang telah ada sejak ratusan tahun ini merupakan bagian integral dari kebudayaan lokal yang melibatkan seni suara dan tari dalam setiap perayaan adat. Kumkum Sinden adalah sebuah pertunjukan yang melibatkan penyanyi (sinden) yang membawakan lagu-lagu tradisional Jawa, biasanya dalam konteks acara-acara seperti pernikahan, khitanan, dan upacara adat lainnya. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral dan pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi kumkum Sindeng ini dilakukan agar para sinden memiliki suara merdu, awet muda dan juga penanda siap terjun ke dunia sinden yang profesional. Sesampainya di Sendang Drajat, para sinden ini satu persatu turun mengikuti prosesi rekaman mereka menerima siraman air dari juru kunci, mereka juga mencuci wajah dengan air Sendang Drajat, mereka dimandikan dengan air kembang yang ditaruh dalam sebuah bokor besar berwarna keemasan yang telah dicampur dengan air dari padusan.

Kumkum sinden ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Raja Airlangga. Masyarakat percaya bahwa Sendang Made mempunyai tuah karena dipercaya menjadi tempat persembunyian Raja Airlangga. Raja Airlangga berasal dari Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali. Ia adalah putra dari Raja Udayana dari Kerajaan Bedahulu dan Ibu Mahendradatta dari Kerajaan Medang, Raja Airlangga lahir di Bali pada tahun 990. Raja Airlangga juga pendiri Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Ia memerintah dari tahun 1009-1042.

Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Anom Antono menjelaskan, tradisi kumkum sinden biasanya digelar Pemkab Jombang bekerjasama dengan Pemerintah Desa Made dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pesertanya dari sanggar-sanggar kesenian di Kota Santri. Para seniman berendam sembari berdoa di Sendang Made yang terletak di lereng Gunung Pucangan, Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang.

“Tradisi kumkum sinden memang awalnya merupakan salah satu media bagi tidak hanya sinden, tapi juga berbagai macam seniman, seperti penyanyi, ludruk dan lainnya. Intinya mereka meminta ke Tuhan agar diberi kelancaran dalam profesinya, semakin baik, popularitasnya menanjak, karirnya kian baik,” Kata Anom

Anom juga mengatakan, Tradisi Kumkum Sinden tersebut kini tengah bersiap untuk diajukan sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah daerah Jombang. Dalam rangka mendukung pengajuan ini, Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Jombang juga mengadakan berbagai kegiatan, seperti pelatihan bagi para sinden muda dan pertunjukan rutin di berbagai acara. Hal ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terlibat dan melestarikan tradisi yang kaya akan nilai-nilai budaya ini.

Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat, kami optimis Kumkum Sinden akan diakui sebagai warisan budaya tak benda. Ini adalah langkah penting untuk melestarikan identitas budaya kita,” Ucap Anom.

Sementara itu, Plh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Wor Windari mengungkapkan bahwa pengajuan Kumkum Sinden sebagai warisan budaya tak benda bertujuan untuk melestarikan tradisi yang hampir punah ini.

“Kami ingin memastikan bahwa generasi mendatang dapat mengenal dan menghargai tradisi ini. Kumkum Sinden bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga merupakan identitas budaya masyarakat Made,” Tambahnya.

Windari kembali mengatakan, proses pengajuan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas seni lokal, tokoh masyarakat, dan akademisi. Mereka bekerja sama untuk mendokumentasikan dan mempromosikan tradisi Kumkum Sinden agar dapat diterima sebagai warisan budaya yang diakui secara resmi.

Tradisi Kumkum Sinden di Made Jombang diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya melestarikan warisan budaya lokal. Dengan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda, diharapkan tradisi ini akan semakin dikenal dan dihargai, baik di tingkat lokal maupun nasional. (Rix)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *