Nyadran, Ruwat Dusun Kemasan, Blooto, Ratusan Warga Guyup Arak Tumpeng Ageng

 

Tagarterkini.com, Mojokerto – Ratusan warga mengarak tumpeng ageng sebagai simbol gotong royong dan mengharmonikan kebhinekaan di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto untuk melestarikan tradisi nyadran. Kamis (23/02/2025).

Tumpeng ageng yang di kirab oleh warga Kemasan merupakan rangkaian kegiatan nyadran atau tradisi ruwat Dusun. Ruwat Dusun tersebut di mulai dari minggu kemarin yang di mulai dari kerja bakti Dusun, festival serabi yaitu membagikan makanan serabi gratis sebanyak 2600, dan kemudian qhotmil quran, dan puncaknya di hari ini yaitu nyadran kirab tumpeng ageng, kenduri, dan tasyakuran bersama masyarakat Kemasan.

Lurah Blooto, Wahyudi mengatakan peserta kirab tumpeng ageng yang mengikuti lebih kurang 600 orang. Tumpeng ageng sendiri yang di kirab memiliki lebar 2 meter dan panjang tumpeng 3,5 meter dan tinggi tumpeng hingga 2 meter.

“Untuk mengangkat tumpeng ageng kita memakai minimal 41 orang denga cadangan lebih kurang 12 orang. di kirab tersebut selain ada tumpeng ageng ada juga ibu-ibu dan anak mudah membawah uborempe, dan memakai pakaian adat atau tradisional,” Ucap Wahyudi.

Wahyudi kembali menjelaskan isian tumpeng ageng yang di arak berkeliling Dusun Kemasan dan akhirnya di makan bersama oleh warga yaitu berupa beras 50 kilo yang di jadikan nasi, dan serabi 250 pack, urap-urap 250 pack, telur, ikan, tempe, tahu, dan masih banyak lainnya.

’’Harapannya semoga nyadran ini bisa meningkatkan guyub rukun masyrakat di Lingkungan Kemasan di dalam kebineka tunggal ika-an,’’ Kata Wahyudi.

Setelah memanjatkan doa bersama, warga langsung saling berebut untuk mengambil makanan yang ada di tumpeng ageng tersebut. Selanjutnya, warga dari yang mudah hingga tua melakukan purakan atau makan bersama-sama di area makam.

Perlu di ketahui, Nyadran sendiri merupakan salah satu tradisi yang masih lekat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha”yang artinya keyakinan. Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya. Nyadran dikenal juga dengan nama Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah. Tradisi Nyadran berdasarkan sejarahnya merupakan suatu akulturasi budaya jawa dengan islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *