Tagarterkini.com, Mojokerto – Komunitas pecinta sejarah di Jawa Timur yang tergabung dalam komunitas Bangiler Reenactor, Soerabaia Combine Reenactor, Begandring Soerabaia, Sepanjang Haritage, Modjokerto Reenactor, Jombang Renactor menggelar ziara kebangsaan bertempat di Taman Makam Pahlawan Gajah Mada Mojokerto. Minggu (1/12/24).
Ziara tersebut mengenang Mayor Hasanuddin Sidik, Komandan Pasukan Techniek TKR Gadjah Mada di Jembatan Sepanjang. Pada Tahun 28 November 1945, suatu tindakan heroik dilakukan oleh Komandan TKR Teknik Gajah Mada, Mayor Hasanuddin Sidik, untuk menghambat serangan Sekutu ke arah Sidoarjo melalui Sepanjang, dengan gagah berani beliau bersama pasukannya meledakan jembatan Sepanjang.
Saat picu ditarik ternyata jembatan tidak meledak, dengan segera Mayor Hasanuddin Sidik berlari memeriksa kabel yang terhubung dengan bom udara seberat 50 kg diantara jembatan, ternyata ada kabel yang putus, Tank Sherman sudah berada diujung jembatan, segera beliau sambung kabel yang putus tadi, bersamaan dengan tersambungnya kabel tersebut, meledaklah jembatan Sepanjang, yang sangat memilukan, beliau gugur bersama dengan meledaknya jembatan tersebut.
Tindakan heroik Mayor Hasanuddin Sidik berdampak besar kepada serangan Sekutu ke Sidoarjo, karena mereka harus memutar jauh ke arah Krian melewati Driyorejo yang dipertahankan dengan kuat oleh TKR, Polisi Istimewa dan Badan Perjuangan lainya.
Achmad Zaki Yamani selaku ketua komunitas Pecinta Sejarah Begandring Soerabaia mengatakan, ziarah tersebut adalah rangkaian memperingati hari pahlawan dan termasuk peringatan peledakan jembatan jembatan sepanjang pada tanggal 28 November 1945 yang berfokus berziarah di makam Mayor Hasanuddin Sidik di Taman Makam Pahlawan Kota Mojokerto.
“Jadi beliau Komandan Hasanuddin Sidik ini gugurnya tidak sengaja, dikarenakan tidak sadar kalau peledak itu sudah di sambungkan, saat beliau menyambungkan kabel tersebut jembatannya meledak begitu juga dengan beliau terkena imbas dari ledakan sehingga gugur,” Kata Zaki.
Zaki juga mengatakan, saat jembatan sepanjang di ledakkan, memang menjadi hambatan besar bagi mobaillitas sekutu menuju ke Sidoarjo yang melewati Sepanjang, sehingga tidak bisa melewati sepanjang. Dan di situlah bagi Zaki dan komunitas pecinta sejarah untuk memperingati sebagai satu nilai ke pahlawanan dan perjuangan seorang komandan Pasukan Techniek TKR Gadjah Mada Mayor Hasanuddin Sidik yang mempunyai kebranian menghadang tentara inggris meskipun akhirnya nyawa beliau sebagai salah satu taruhannya.
“Selain berziarah di makam Hasanuddin Sidik kita juga tadi berziarah di makam Mayor dr Soepraoen, beliau ini dokter tentara pangkatnya Mayor beliau ini gugur pada Januari 1946, dan beliau ini adalah dokter tentara pertama yang gugur di medan laga,” Ucap Zagi.
Pada massa awal kemerdekaan (1945) Mayor dr Soepraoen bergabung dengan Pasukan BKR yang dipimpin oleh Kolonel Sungkono pada saat itu dan menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Rumah Sakit Militer Jawa Timur yang berada di Rumah Sakit Darmo. Dan pada saat itu Kepala Kesehatannya dipimpin oleh Letkol I P Rajimin. Pada saat perang Surabaya dr Soepraoen aktif dalam memberi dukungan dan pertolongan kesehatan kepada para pejuang.
Pada tanggal 03 Januari 1946 beliau mendapat perintah untuk memberi pertolongan di garis pertempuran melawan Sekutu di wilayah Gresik bagian selatan (Balong Panggang,Wringin Anom,Krian dam Mojokerto),karena pada saat itu para pejuang banyak yang luka akibat pertempuran dari Surabaya. Pada saat perjalanan pukul 09.30 WIB beliau tidak sengaja menginjak Ranjau darat yang ditanam Sekutu sehingga beliau meninggal bersama 2 (dua) orang Anggotanya yang membawa tandu. Agar tidak diketahui Sekutu jasad beliau dan 2 (dua) orang anggotanya yang tidak utuh lagi itu dikumpulkan oleh para pejuang pada kelompok beliau. Sehingga jasad beliau sementara dimakamkan di dusun legundi desa Krikilan Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik Jawa Timur.
Pada tahun 1950 atas perintah/instruksi Presiden Soekarno agar para pejuang yang gugur agar dipindahkan ke TMP Gajah Mada Kota Mojokerto. Untuk mengenang jasa-jasa dan perjuangan beliau diabadikan sebagai nama Rumah Sakit TK II dr Soepraoen Jl S.Supriyadi No.22 Sukun Malang Jawa Timur.
“Kami berharap bahwa apa yang kita lakukan dan laksanakan hari ini kemudian menjadi suatu tradisi kejuangan bagi warga Sepanjang kususnya dan bagi kita semua pada umumnya untuk menghormati pengorbanan para pahlawan dalam menegakkan kemerdekaan Indonesia,” Terang Zaki.
Selian mendatangi Taman Makam Pahlawan di Kota Mojokerto, Zaki bersama Komunitas pecinta sejarah tersebut melanjutkan kunjungannya ke Rumah Sakit DKT Hadiono Singgih di Jalan Raden Wijaya, Kota Mojokerto, yang dulu pada pertempuran surabaya menjadi salah satu rumah sakit evakuasi korban, setelah 3000 korban dari rumah sakit simpang yang di keluarkan dari Surabaya, dan rumah sakit DKT Mojokerto menjadi salah satu rujukan untuk oprasi beda.
“Jadi rumah sakit DKT itu untuk rujukan dari rumah sakit di Surabaya untuk oprasi bedah. Jadi dulu oprasi bedah yang sangat gawat itu di tangani oleh dokter-dokter yang ada di rumah sakit DKT ini,” Imbuh Zaki.
Zaki kembali berharap, dimulai dari komunitas pecinta sejarah ini yang saat ini di lakukan bisa memberikan motifasi kepada masyarakat agar bisa bersama-sama mewarisi nilai-nilai perjuangan dan patriottisme. Dan bersama-sama nguri-nguri sejarah dan mewarisi sejarah ini agar kita semua mempunyai kebanggaan secara Nasional bahwa kita merdeka karena usaha dan pengorbanan yang sangat luar biasa.
Sebelum mengakhiri kunjungannya di wilayah Mojokerto, komunitas pecinta sejarah tersebut berlanjut menuju ke Kantor Kelurahan Gemakan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto untuk melihat bangunan kantor kelurahan gemekan yang di bangun seperti bangunan kolonial yang di kombinasikan dengan era kerajaan Majapahit.













