Begini Kondisi Jembatan Gajah Mada dari Dana CSR BNI Yang Dikorupsi Rp 252 juta

 

 

 

Foto: Bata yang menempel pada jembatan Gajah Mada hasil revitalisasi dana CSR BNI sudah berlumut.

Tagarterkini.com, Mojokerto — Beginilah hasil revitalisasi jembatan Gajah Mada Kota Mojokerto yang menyebabkan tiga orang ditetapkan oleh Kejari Kota Mojokerto sebagai tersangka korupsi dana CSR BNI sebesar Rp 252 juta.

Untuk diketahui jembatan Gajah Mada merupakan akses utama masuk ke wilayah Kota Mojokerto. Di sisi timur bagian bawah jembatan nampak hasil revitalisasi tatanan berupa batu bata menempel di dinding jembatan. Dibagian tengah nampak tiga lambang Surya Majapahit berukuran besar berjejer. Namun sayang, lambang Dewa dalam Surya Majapahit itu terbalik, yang seharusnya delapan dewan menghadap luar, yang ada malah menghadap terbalik ke dalam.

Dewa dalam lambang surya majapahit yang terbalik

Sedangkan kondisi di sisi barat jembatan nampak sebagian batu bata telah berlumut. Coret-coret vandalisme juga banyak diterlihat. Seperti di bagian panel listrik dan tempat pompa air. Sama seperti di sisi timur, di bagian barat, tiga lambang surya Majapahit juga terbalik. Plat tulisan “BNI BERBAGI” nampak jelas menempel di sisi jembatan.

Untuk bagian atas jembatan nampak ornamen menghiasi jembatan di bagian timur dan barat. Untuk revitalisasi jembatan Gajah Mada, BNI mengucurkan dana CSR sebesar Rp 607 juta. Namun dalam prosesnya terjadi korupsi.

Khalimin salah satu pengendara motor yang lewat ketika di wawancarai mengatakan revitalisasi jembatan menambah indah Kota Mojokerto.

“Ya memang ada bedanya, sekarang lebih estetik. Namun ada saja vandalisme, dan kondisi bata butuh perawatan sudah ada yang berlumut,” tuturnya, Selasa (3/1/2023).

Mahmud pengguna jalan mengatakan jembatan Gajah Mada merupakan ases utama menuju Kota Mojokerto. Ia mengatakan sebelum di revitalisasi kondisi jembatan kusam.

“Kalau malam lebih estetik lagi karna ada ornamen lampu-lampu yang menghiasi,” tuturnya.

Namun, revitalisasi jembatan yang mendapat sambutan baik dari masyarakat itu harus dicoreng dengan adanya korupsi dalam proses pembangunannya.

Sebelumnya, akhir tahun 2022 ditutup Kejaksaan Negeri (Kejari) Mojokerto dengan menetapkan tiga tersangka kasus korupsi dana
Corporate Social Responsibility (CSR) BNI dalam proyek revitalisasi jembatan Gajah Mada.

Dari tiga tersangka itu, dua diantaranya yakni S dan Ar langsung dijebloskan ke tahanan, sedangkan satu tersangka AJ belum ditahan dengan alasan sakit.

Untuk diketahui, dalam mengungkap kasus dana CSR ini, koprs adhayasa membutuhkan waktu dua bulan lebih. Setelah memanggil saksi-saksi, Kejari Mojokerto menetapkan direktur CV Rahmad Surya Mandiri berinisial S (62) selaku vendor yang ditunjuk BNI, pelaksana lapangan AJ (42) dan AR (40) selaku konsultan proyek.

“Ketiga tersangka itu berinisial (S) selaku direktur CV Rahmad Surya Mandiri, (AJ) pelaksana lapangan dan (AR) selaku konsultan proyek. Namun S tidak hadir karena sakit,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto, Hadiman, Kamis (29/12/2022).

Hadiman menjelaskan, dana Corporate Social Responsibility (CSR) ini berasal dari KP Bank Negara Indonesia (BNI) Mojokerto yang dipergunakan revitalisasi jembatan yang berada di Jl Gajah Mada, Kota Mojokerto. Proyek itu dikerjakan CV Rahmad Surya Mandiri pada tahun 2021 dengan nilai kontrak Rp 607.476.698. Namun S selaku CV Rahmad Surya Mandiri melimpahkan proyek itu ke AJ.

“S hanya beberapa kali ke lapangan, semua pengerjaan diserahkan ke saudara AJ,” jelasnya.

Hadiman membeberkan, pengerjaan proyek rehabilitasi jembatan Gajahmada itu dinilai tidak sesuai kontrak. Sehingga, kejaksaan menemukan kerugian negara sebesar Rp 252.173.542.

“Modus operandi, pekerjaan vendor tidak sesuai kontrak.Dalam RAB itu ada pembelian batu bata Tuban tapi realisasinya tidak memakai itu,” bebernya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 UU no 31 tahun 1999 sebagaimana dirubah UU no 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 KUHP. S dan AR akan ditahan di Lapas IIB Mojokerto selama 20 hari kedepan, sementara AJ yang mengaku sakit akan kembali dipanggil untuk diperiksa Senin depan.

“Tersangka akan ditahan selama 20 hari kedepan mulai 29 Desember 2022 – 17 Januari 2023,” pungkasnya.

Dugaan korupsi CSR Kota Mojokerto ini mulai didalami Kejari Kota Mojokerto sejak awal bulan Juli 2022. Lembaga adiyaksa itu mencium adanya tumpang tindih anggaran CSR dengan pelaksanaan anggaran dalam APBD mulai tahun 2018 hingga 2021.

Akhirnya, kejaksaan melakukan penyelidikan sejak 27 Juli 2022 dengan landasan Surat Perintah Penyelidikan Nomor: Print-06/M.5.47/FD.1/07/2022.

Setelah 4 bulan melakukan penyelidikan, kejaksaan berhasil menemukan sejumlah barang bukti adanya penyelewengan pemakaian anggaran CSR itu. Dari penghitungan sementara, mereka juga menemukan adanya kerugian.

Selanjutnya, pada 14 November 2022 Kejari Kota Mojokerto menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan dengan landasan surat perintah nomor : Print-03/M.5.47/FD.1/11/2022.

 

 

Berita Terkait

Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

No Content Available