Tak Dibayar dan Tidak Bisa Pulang, 9 ABK Hidup Terlantar di Pulau Guam Amerika

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

 

Tagarterkini.com, Malang – Kabar sedih datang dari Malang. Sebanyak enam dari sembilan Anak Buah Kapal (ABK) yang terlantar dan tak bisa pulang ke Indonesia. Kapal MV Voyager milik bos asal Kanada yang mereka tumpangi tertahan di Pulau Guam, Amerika Serikat.

Dari kabar yang terhimpun hingga Kamis (28/10), selain terlantar mereka juga tidak menerima gaji selama 5 bulan. Selama lima bulan, kebutuhan harian mereka seperti makan dan minum terbantu oleh salah satu agensi kapal di sana.

Hidup terkatung-katung selama 5 bulan di sana, para Anak Buah Kapal (ABK) ini tidak memiliki uang sepeser pun. Bos pemilik kapal diduga kabur karena tak bisa menggaji para ABK dan juga tak bisa memulangkan mereka.

“Kita terlantar di sini lima bulan, dan sekarang kita ingin pulang ke Indonesia,” ujar salah satu kru lewat video yang tersebar di sejumlah WhatsApp Group.

Saking kalutnya, mereka sampai membentangkan spanduk di badan kapal dengan pesan tulisan yang menyayat hati. ”We want to repatried, to be paid our salaries (5 months). Our family at home into danger. No income for living & study fee. Our mentality completely down. Our family needs our support,” tulis mereka.

Salah seorang ABK asal Kota Batu, Ali Akbar Cholid (27), saat dihubungi lewat sambungan telepon membenarkan bahwa dirinya bersama awak lainnya telantar hidup di atas kapal sejak Juli 2021 lalu.

Awalnya, mereka berangkat dari Bali menuju Guam untuk menjual kapal tersebut. Namun, sesampainya di sana si calon pembeli urung membeli kapal tersebut.

”Saat kami hubungi pemilik kapal, kami hanya diberi janji-janji saja. Kami hubungi KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di AS juga begitu, masih proses-proses terus. Sudah dua bulan KJRI bilang masih diproses. Suruh berdoa terus saja,” terangnya, pada Kamis (28/10/2021).

Ketidakjelasan itu semua membuat mereka bahkan tidak bisa turun ke daratan karena kendala izin. Artinya, selama lima bulan itu mereka hidup terkurung di atas kapal. Perasaan dalam hati mereka campur aduk.

”Kami hanya ingin pulang. Liat anak pertama saya yang sudah lahir, belum liat bapaknya sama sekali. Ada juga teman di sini, bapaknya meninggal, tapi dia gak bisa pulang,” ungkapnya.

“Secara fisik kami sehat, tapi tidak dengan mental kami. Kami hanya ingin pulang,” katanya lagi.

Sementara itu, Rani Septi Ridwan, istri Ali menceritakan bahwa suaminya sudah meninggalkan dia untuk berlayar sudah empat bulan lebih. Bahkan sampai bayi dalam kandungannya melahirkan dan saat ini berusia 1.5 bulan.

“Saya berharap suami saya bisa segera pulang. Pihak keluarga juga sudah berupaya meminta bantuan kerabat dan anggota DPRD Provinsi. Namun belum ada yang membuahkan hasil. Rencananya saya juga akan menyampaikan hal ini ke pemerintah daerah,” bebernya.

Perlu diketahui untuk sembilan ABK yang ikut dalam kapan MV. Voyage diantaranya Agus Brigrianto, 54, asal Beji, Kota Batu , Bambang Suparman, 56, Griya Shanta Kota Malang , Gunawan Soeharto, 54, asal Jalan Sigura-Gura Kota Malang, Dicky Wahyu, 25, Jalan Sukarno Hatta Kota Malang , Fajar Nur, 30, Singosari Kabupaten Malang dan Ali Akbar Cholid, 27, Jalan Arjuno Kota Batu. Lanjut dari 3 ABK lainnya Yusman Shobirin (Sidoarjo, 54 th), Muhamad Khafid (Lumajang, 26th), Fery Sujatmiko (Blitar, 50 th),

Sampai hari ini, KJRI di Los Angeles belum memberi kabar sehingga akhirnya para kru mengunggah kabar ini ke media dan sanak famili di Malang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berita Terkait

Menarik Lainnya

No Content Available

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terpopuler

%d blogger menyukai ini: